Dahsyatnya Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya - Dikisahkan oleh Ustadz Musyaffa AR bahwa temannya suatu ketika dokter Ishan yang merupakan seorang dokter spesialis syaraf sedang melakukan sebuah perjalan dengan menggunakan pesawat kecil yang hanya berisi beberapa penumpang saja, perjalanan inilah yang dijadikan Allah sebagai washilah sehingga kisahnya bisa sampai ke telinga kita semua untuk dijadikan pelajaran berharga dan semakin mengagungkan kekuasan Allah bahwa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang terpilih melebihi kasih sayang dari semuanya, tiada satupun yang mampu menandingi-Nya.
Kisah Nyata Inspiratif
Dahsyatnya Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya - Kisah ini juga membuktikan bahwa do’a hamba Allah benar-benar didengar oleh-Nya dan dengan sifatnya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah akan mengabulkan do’a-do’a hamba tersebut tentunya dengan cara-Nya, cara yang mungkin menurut kita mustahil tapi bagi Allah tidak ada satupun yang tak mungkin. Beginilah kisah selengkapnya, semoga bermanfaat.
Dahsyatnya Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya - Penerbangan
yang dilakukan dokter Ishan bersama beberapa rekannya itu mengalami masalah di
tengah perjalanan karena cuaca yang sangat tidak bersahabat, langit gelap
diselimuti mendung, angin yang begitu kencang menerpa begitu mengganggu
keseimbangan pesawat ditambah petir yang berulangkali menyambarkan kilatnya di
angkasa membuat pesawat seperti terguncang, turbulensi sangat kuat dirasakan
para penumpang termasuk dokter Ishan sendiri. Masalah bertambah ketika petir
menyambar tepat di badan pesawat yang kemudian mengakibatkan salah satu bagian
mesin rusak, membuat pilot terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah
beberapa saat yang begitu menegangkan mencoba menemukan tempat untuk mendarat
dan beruntungnya ditemukan sebuah tempat yang tepat di dekat lokasi sehingga
mereka berhasil mendarat dengan selamat.
Dahsyatnya Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya - Mereka bersyukur sudah bisa mendarat dan diberi keselamatan, baru beberapa saat kemudian mereka menyadari bahwa pesawat mendarat di sebuah tempat yang ternyata berada di wilayah pelosok terpencil, crew mencoba memperbaiki mesin yang rusak namun tidak berhasil, karena kelelahan mereka pun beristirahat. Dokter Ishan bertanya kepada mereka "Berapa lama kita harus menunggu di sini?" tanya dokter, "Mungkin cukup lama," jawab pilot, "Tapi aku harus segera tiba di kota sebelah. Sangat penting", lanjut dokter. "Untuk ke sana, anda perlu waktu 3 jam jika naik mobil", jawab pilot. "Oh ya. Aku akan sewa mobil saja". Akhirnya dokter memutuskan menyewa mobil untuk melanjutkan perjalanan, segera setelah mendapatkan mobil dokter Ishan menuju kota tujuan.
Dahsyatnya Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya - Namun di tengah perjalanan menggunakan cuaca bertambah gelap, kilat menyambar semakin kencang berulang-ulang bersama derasnya hujan turun disertai angin yang kencang, mobil bergerak terseok-seok memaksakan diri dan akhirnya harus terhenti ketika tidak mampu melewati jalan berlumpur, air menggenangi badan jalan dengan banjir ditanah yang menjadi sangat becek. Dokter segera sadar, ia tidak bisa kemana-mana lagi, dalam situasi yang sulit seperti itu mencoba menenangkan diri dan melihat sekitar barangkali ada yang bisa member bantuan.
Dahsyatnya Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya - Berjalan menerpa hujan, dokter berlari-lari kecil mencari tempat berteduh, untungnya kemudian terlihat ada sebuah rumah kecil sederhana di ujung sana. "Kita pergi ke sana saja. Kita bisa berteduh sembari menumpang shalat. Mungkin disana juga ada makanan barang sedikit," kata dokter kepada sopir. Mereka pun memutuskan untuk menuju rumah kecil tersebut. Sebuah rumah sederhana yang terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk lainnya, Dokter mengetuk pintu dan mengucap salam. "Assalamu alaikum..." Seorang nenek tua membukakan pintu sembari menjawab salam. "Ada apa Nak?" tanya sang Nenek.
Dahsyatnya Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya - Dokter
segera menceritakan semua peristiwa yang dialami selama perjalanan, mendengar
penjelasannya kemudian nenek itu mempersilakan mereka beristirahat di rumahnya
serta tak lupa menunjukan tempat sholat kecil di dalam rumahnya untuk mereka
melaksanakan ibadah sholat. Selesai sholat dokter melihat ada seorang anak
kecil di dekat tempat sholat dalam kondisi memprihatinkan sehingga naluri
dokternya muncul dan memperkirakan bahwa anak tersebut sedang sakit parah,
kemudian dokter memberanikan diri untuk bertanya kepada nenek yang juga
terlihat gelisah beberapa kali melihat anak tersebut. "Terima kasih banyak
Nek. Kami sudah menumpang sholat di sini. Kalau boleh tahu, apa yang terjadi pada
anak kecil itu"? tanya dokter. "Itu adalah anak yatim. Ia tengah
sakit parah. Aku adalah nenek dari anak ini..." jawab Nenek. "Kami
telah mengunjungi banyak dokter , namun mereka tidak bisa mengobati dan
memberitahu bahwa yang bisa mengobati hanya seorang dokter ahli syaraf, itupun
hanya ada satu, sementara tempat dokter itu katanya sangat jauh, dan kami tidak
mempunyai biaya bahkan hanya sekedar untuk biaya perjalanannya saja, kami
pernah mencoba menghubunginya tapi katanya kami harus menunggu 6 bulan lagi
karena padatnya jadwal dokter itu" Nenek menjelaskan lebih lanjut.
"Sejak hari itu, aku selalu berdo'a kepada Allah : Ya Allah, mudahkan
urusan kami. Anak ini sakit, mudahkan urusan kami ya Allah..." ujar Nenek.
"Siapa nama dokter spesialis itu Nek?" tanya dokter. "Namanya
dokter Ishan...." jawab Nenek. Mendengar jawaban itu, mata dokter
terbelalak, hatinya berdegup kencang, kedua tangannya pun gemetar, tak terasa
matanya memerah dan mulai mengalirkan butiran-butiran air mata, "Kenapa engkau
menangis, Nak?" tanya Nenek. "Nenek, do'amu baru saja dijawab Allah.
Akulah dokter Ishan yang kalian cari itu, mungkin karena do'amu, petir
menyambar mesin pesawat yang aku tumpangi. Kami mendarat darurat. Lalu kami
menyewa mobil. Hujan turun lagi menghentikan kami dan seterusnya kami ke
sini...." Mendengar penjelasan itu Nenek ikut menangis terharu segera
bersujud syukur kepada Allah, setelah itu dokter Ishan langsung memeriksa anak
tersebut dan berusaha mengobatinya.
0 Komentar