”SYAHIDNYA CINTA, ETERNAL PATROL”
”SYAHIDNYA CINTA, ETERNAL PATROL” - "Kamu adalah bidadari surgaku, hati-hati ya di rumah, jaga baik-baik anak kita", katanya diiringi suara mobil dinas tentara parkir di depan rumah, mobil jemputan sudah datang. "Ish, kaya mau pergi kemana aja, emangnya mau lama.., iya iya aku jagain, kamu juga hati-hati ya mas, kucium tangannya, dan iapun lirih berdoa, doa yang terbiasa menghiasi suasa kami setiap kali mengantar Mas Nug pergi. Tetapi kali ini rasanya sungguh berat. Saat mobil yang menjemputnya telah hilang dari pandangan, seketika itu pula hatiku merasa kosong.
***
Sebuah Fiksi : ”SYAHIDNYA CINTA, ETERNAL PATROL”
Kode Cerpen : Narasantri 210527 - Penulis : Abisol
Sumber : Blog SantriONE.com
***
”SYAHIDNYA CINTA, ETERNAL PATROL”
"Udah sholat sayang?", mas Nug
mengirimkan pesan WA yang tiba-tiba mengaburkan lamunanku, entah mengapa hari
ini banyak ga fokus aku mengurus pekerjaan rumah, tubuh terasa lemas tak seperti
hari-hari puasa biasanya, sejenak kubalas pesan suamiku sekalian nitip takjil
untuk buka puasa anak-anak nanti, mumpung mas Nug lagi di minimarket pikirku.
Kulanjutkan menyeterika baju-baju dinas Mas Nug yang udah hampir selesai,
sebuah tas ransel kusiapkan di sampingku, besok Mas Nug patroli, satu persatu
pakaian kumasukkan ke dalamnya. Tak lupa sajadah waterproof kesayangannya,
hadiah dari Ibuku saat Mas Nug ulang tahun waktu itu, selalu saja setia
menemani saat dia bertugas.
***
"Ini enak banget... Terima kasih, dik,
selama ini udah jadi istri yang baik dan sempurna buat Mas.", puji Mas Nug
menyantap sambal goreng kentang kesukaannya yang sengaja aku masak untuk buka
puasa hari ini, Mas Nug akan berangkat tugas ke BALI mungkin beberapa hari kami
akan berpuasa tanpa Mas Nug. "Aku yang terima kasih karena Mas mau
bersabar denganku. Mas itu suami terbaik di dunia yang khusus diciptakan
untukku... itu sengaja masak banyak, sudah aku bungkusin juga buat mas jalan
nanti " jawabku sambil membalas tatapan Mas Nug yang saat ini begitu
hangat kurasakan. Sesekali senyum terlepas dari wajah tampannya yang masih saja
tetap gagah, aku sangat mencintai lelaki ini. Lelaki sholeh yang 10 tahun lalu
melamarku, ia yang meluluhkan hatiku saat itu, di saat banyak pria mencoba
mendekatiku, ia yang mengajarkan banyak hal dan membimbingku, bahkan masih
teringat bahwa ia juga menyadarkanku dalam berpakaian termasuk mengenakan hijab
hingga saat ini. Ya Allah terima kasih atas karuniaMU, engkau berikan pria
terbaik untuk menjadi suamiku, darinya pula kami dilengkapi dua jagoan kecil
pelengkap keluarga kecil kami. "Latihannya hari Rabu", kata Mas Nug
sambil merangkul bahuku, "Besok pagi mas harus berangkat, rencananya
latihan menambahkkan peluru perang, mungkin besok malem sudah menyelam karena
dini hari jadwal torpedo diluncurkan." katanya lagi menjelaskan. "iya
mas, itu pakaian dan lainnya sudah aku siapkan semua di ransel, mas hati-hati
ya " jawabku perlahan, entah kenapa melepasnya kali ini terasa begitu
berat, padahal sebagai istri prajurit aku sudah sangat terbiasa mendengar
suamiku berpamitan. Kurapikan posisi dudukku di samping Mas Nug sambil memangku
Zaid, si kecil yang baru belajar jalan, celotehnya meski tidak jelas,
seringkali menyegarkan suasana, sesekali kami semua dibuatnya tertawa, memang
kehadiran Zaid menambah lengkap kebahagiaan kami, meski sejak lahir sering
ditinggal ayahnya karena dinas tapi sepertinya ia mulai memahami, seakan dia
sengaja menghiburku saat Mas Nug menjalankan tugas beberapa hari tidak di rumah,
si kecil inilah yang senantiasa menghiburku.
***
Teras rumah pagi itu masih hening, lampu
depan juga belum aku matikan, selesai sholat Shubuh berjamaah kami duduk di
depan sambil menunggu mobil jemputan Mas Nug. Bunga-bunga dalam pot seakan
bersabar menungguku punya waktu menyirami, karena mentaripun masih belum tampak
menebar sinarnya. Omar menutup Mushaf Al Qur’an yang baru selesai dibacanya,
memang kebiasaan Mas Nug menyempatkan untuk menyimak bacaan Al Qur’an Omar
setiap di rumah, dan mengecek hafalan Al-Qur’an anak kami yang pertama itu.
Bulan lalu Omar wisuda tahfidz juz 5, sebagai ibu tentu aku begitu bangga punya
anak yang baru umur 9 tahun sudah mau hafal 6
juz, apalagi mempunyai suami sholeh yang selalu membimbing kami
beribadah. "Sayang, ini buat kamu", kata Mas Nug mengagetkanku, ia
menundukkan punggungnya di depanku dan memberikan sebuah kotak merah untukku
yang kutebak cincin emas di dalamnya, karena beberapa hari yang lalu aku sempat
ngambek minta dibelikan sebuah cincin di hari Ulang Tahun pernikahan, mengingat
cincin yang kupakai itu-itu saja sejak kami menikah. "Makasih ya sayang,
tapi ga usah sok romantis gitu deh, pake sujud-sujud segala kaya sinetron"
candaku sambil menutupi rasa maluku yang memang sering dipancing dengan sikap
romantis suamiku, Mas Nug memang pandai meruntuhkan hatiku, bahkan sampai saat
ini, tak berkurang sedikitpun cintaku padanya. "Kamu adalah bidadari
surgaku, hati-hati ya di rumah, jaga baik-baik anak kita", katanya
diiringi suara mobil dinas parkir di depan rumah, mobil jemputan sudah datang.
"Ish, kaya mau pergi lama aja, iya iya aku jagain, kamu juga hati-hati
ya", jawabku sambil kucium tangannya yang begitu hangat, kugandeng
pergelangannya sampai mobil, Mas Nug tersenyum dan mengangguk, kemudian memeluk
erat dan mencium ubun-ubunku sambil melantunkan doa lirih, begitupun kepada
kedua anakku, doa-doa itu sangat terbiasa menghiasi suasa kami setiap kali
mengantar Mas Nug pergi. Tetapi kali ini rasanya sungguh berat. Saat mobil yang
menjemputnya telah hilang dari pandangan, seketika hatiku merasa kosong.
***
"Mas sudah mau nyelam, sayang. doain
ya." Suara Mas Nug terdengar di headset HP yang masih nempel di telingaku
sejak semalaman beberapa kali kami saling telepon-teleponan. Di sela-sela
latihan, setiap ada waktu senggang ia selalu menyempatkan untuk menelponku dan
menyapa anak-anak. "Sayang, sambel gorengnya abis, tadi diserbu sama
kawan-kawan, enak kata mereka, iyalah bidadari yang masak" Mas Nug masih
sempet juga mencadaiku, dan seperti biasanya, aku langsung salting, memang
kebiasaan itu yang jujur aja selalu aku rindukan, gombalannya meski kadang ga
bermutu tapi tetap saja membuatku tak bisa kebal dari rayuannya. "Makanya
cepetan pulang, ntar kalau di rumah aku masakin yang banyak", kataku
sambil bangun dari tempat tidur, sambil melirik kedua anakku yang masih polos
tertidur pulas. Hening suara HP tak ada jawaban dari Mas Nug, kulihat layar HP
mungkin sambungannya terputus, ternyata tidak. "Mas ... Halo ... Mas?"
aku memastikan, "Eh, iya. Aku kangen kamu sayang, kangen Omar dan Zaid,
kangen banget," suaranya lirih "Sayang, jaga anak-anak baik-baik, ya?
Kamu pasti bisa." katanya kali ini membuatku kaget. "Kok Mas ngomongnya gitu?"
protesku. "Kayak mau ke mana aja."
"Nggak apa-apa, tiba-tiba kepikiran aja.
Udah dulu, ya. Sebentar lagi dipanggil, nih. Uhibbuki fillah, ya zaujati."
Sebelum sempat aku membalas ucapannya, sambungan pun terputus. Tut... tut...
tut...
Iya Mas Nug ... Aku juga ...
Aku mencintaimu karena Allah, Mas.
Kuletakkan HP ku di atas meja, kulepas earphone
dari telingaku, tiba-tiba hatiku gelisah tak menentu, aku tak tahu harus
bagaimana, seharian penuh aku tak melakukan apa-apa. Sampai kesorean harinya,
gelisahku meledak, air mata tak tertahan langsung menetes di pipi hingga
membasahi jilbabku. Kapal selam mereka hilang kontak. Aku cek di grup WA,
kupelototin layar TV, kedua kaki tak bisa terdiam bolak balik kesana kemari.
Kuambil air wudhu agar sedikit tenang,
kugendong Zaid dan kuminta Omar untuk menjaganya sejenak, disamping kedua
anakku, kupakai mukena dan langsung tak kuasa kepalaku menghujam tempat sujud.
Kutuangkan semua resahku kepada Pemilik Bumi dan Langit, mengharapkan keajaiban
karena statusnya masih dinyatakan hilang, harapanku masih meninggi, mengalir
deras bersama air mata dan doa-doa yang tak berhenti kuterbangkan. Setidaknya,
menurut keterangan di berita, mereka membawa cukup logistik dan persediaan
oksigen masih mencukupi hingga 72 jam. Tentu sedikit menghibur diri, aku
berkata dengan diriku sendiri, dengan hatiku, mencoba menenangkan dan
menguatkan, tidak ada yang lebih kuasa
dan tempat memohon pertolongan selain Allah.
***
Jam dinding terus berputar tapi terasa begitu
lambat, ibadah puasaku berpeluh air mata, hari-hari yang begitu berat kurasakan
pertama kali sepanjang hidupku, dan belum ada kabar berita yang mampu
menghentikan air mataku. Doa-doaku terus meninggi bersama tinggi harapan
mendapatkan kabar dari manusia yang paling kucintai
Hari kedua, informasi menyatakan kapal mereka
ada di kedalaman kurang lebih 850m di bawah laut. YA RABB !... benakku penuh
dengan bayangan mimpi buruk, bagaimana dan seluruh berjuang di tengah tekanan
udara yang begitu hebat, bahkan besi baja akan remuk di kedalaman itu, apalagi
tubuh manusia.
Aku tergeletak seakan seluruh sendi lepas
dari tubuh ini, YA RABB... berita muncul telah menemukan muncul kepingan
barang-barang yang diyakini bagian dari kapal selam yang mereka naiki, mataku
membelalak menyorot sebuah benda, kudekatkan wajahku ke layar TV, YA RABB...
tidak salah lagi, itu sajadah waterproof milik Mas Nug, hadiah dari ibuku, aku
yakin sekali tangan ini yang mencucinya, menyeterikanya, hingga menyiapkannya
ke ransel suamiku. YA RABB...
YA RABB
APAKAH HARI INI WAKTUNYA MENGIKHLASKAN
Inikah saatnya untuk merelakan YA RABB ! YA
RABB !? YA RABB !
Aku tersungkur tak berdaya, tenggelam dan
semakin larut dalam kesedihan tak berujung, tanganku tak sengaja menabrak
sebuah kotak merah di atas TV dan ikut terjatuh bersama tubuhku di lantai, ya
kotak merah berisi cincin hadiah ulang tahun perkawinan dari Mas Nug. YA RABB..
kalau bisa diulang aku takkan meminta hadiah apapun untuk ulang tahun
perkawinanku, asal aku bisa bersama Mas Nug selamanya. Aku tak butuh cincin, yang kubutuhkan
lelakiku ada disini, kembali.
Selembar kertas terlipas di dalam kotak merah,
kubuka dengan kedua tanganku yang basah karena air mata, dan kubaca kembali :
"Assalamualaikum, Sayang. udah ga
ngambek lagi kan, ini janji mas mau ngasih kamu cincin di hari anniversary
kita, udah ya jangan ngambek, ntar ilang cantiknya, eh kamu mah ga pernah
jelek, namanya juga bidadari."
Aku menarik napas sebelum meneruskan membaca,
wajahku yang biasanya tersipu malu saat dirayu, nyatanya semakin menambah perih
hati, semakin sesak dada ini, semakin sakit menghujam dada.
"Terima kasih telah menemani
hari-hariku, menemaniku saat duka ataupun tertawa. To be my wife, thank you so
much. Uhibbuki fillah, ya zaujati."
"And I'm blessed to have you as my
husband, Mas. " Lirihku dalam hati.
"Terima kasih untuk semua ekspresi
cintamu selama ini. Mas berharap kita akan senantiasa saling mencintai di bumi,
kemudian mati dan hidup lagi untuk bersama kembali di surga. Didik anak-anak
agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik seperti Mama mereka, ya. "
Terima kasih juga untuk seluruh cintamu yang
melengkapiku, Mas. Insyaallah ... insyaallah kita akan berkumpul kembali di
surga. Anak-anak kita akan terus kujaga agar kelak bisa memberikan kita mahkota
di surga.
" Mas ridho padamu. Miss you and love
you to the sky sampai under the sea haha."
Aku tak mampu tertawa membacanya, Mas. Sebab
tahu, setelah ini aku tak akan mendengarkan gombalanmu lagi.
Selamat jalan, cintaku. NUGROHO AJI HERDARTO.
Purna sudah tugasmu mengabdi. Sebegitunya engkau mencintai laut, sampai-sampai
menemui takdir kematian juga di sana. AKU MENCINTAIMU, TAPI NEGERI INI LEBIH
MEMBUTUHKANMU, AKU SANGAT MENYAYANGIMU, TAPI ALLAH LEBIH TAHU ARTI KASIH DAN
SAYANG.
Aku tak tahu sedang apa engkau kala Malaikat
Izrail mendatangimu. Sedang sahur? Salat Subuh? Salat Duha? Sedang menikmati
lapar puasa? Atau saat berbuka? Satu yang kuyakini, engkau kini sedang bahagia
saat ini. Sebab cita-citamu telah tergapai, pangkat yang ingin kaugapai adalah syahid.
Engkau kini oleh Allah dengan cara yang indah karena ini bulan mulia, begitu
juga teman-teman syahidmu.
Meski singkat Allah beri waktu membersamaimu
di dunia. Janji, ya. Setelah ini kita akan bersama lagi, selamanya.
TUNGGU AKU DI PINTU SYURGA, KAPTEN! ...
***
Sebuah Fiksi : ”SYAHIDNYA CINTA, ETERNAL
PATROL”
Kode Cerpen : Narasantri 210527 - Penulis :
Abisol
Sumber : Blog SantriONE.com
***

0 Komentar