Terjemah Kitab Washiyatul Mustofa : Bab Makanan Halal
|
BACA INI JUGA YA : |
|
Bab Makanan Halal
#102 Terjemah Kitab Washiyatul
Mustofa : Bab Makanan Halal
يَاعَلِيُّ، مَنْ أَكَلَ الْحَلَالَ صَفَا
دِيْنُهُ، وَرَقَّ قَلْبُهُ، وَلَمْ يَكُنْ لِدَعْوَتِهِ حِجَابٌ
Wahai Ali, Barang siapa
yang memakan makanan halal, maka bersih/jernih agamanya, lembut hatinya, dan
do'anya tidak akan terhalang (Doanya selalu di kabulkan).
Mencari rezeki merupakan
tuntutan kehidupan, siapapun tentu tidak mungkin menghindar darinya. Namun
sebagai seorang muslim tentu saja kita harus hati-hati dalam mencari rezeki,
jangan sampai rezeki yang kita dapatkan termasuk rejeki yang tidak halal, yang
tentu saja akan berakibat buruk kepada kehidupan kita di dunia dan akhirat.
Menurut hadist diatas :
Jika kita membiasakan diri memakan makanan yang halal dan dihasilkan dengan
cara yang halal, maka kita akan memiliki 3 keuntungan yaitu :
1.
Bersih/Jernih Agamanya
Jika seseorang bersih agamanya, tentu akan terhindar dari
pemahaman-pemahaman yang sesat dan pemahaman yang akan merusak aqidahnya
2.
Lembut Hatinya
Memiliki hati lembut dapat diartikan halus budi, sopan dalam
berucap dan santun dalam bertindak. Sikap berhati lembut merupakan salah satu
ciri akhlak terpuji yang harus dipegang teguh oleh setiap manusia. Sebab sikap
berhati lembut dapat membawa kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
3.
Do'a nya Selalu Dikabul
Doa adalah senjatanya orang mukmin. Doa juga merupakan pangkal
atau ‘otak’nya ibadah, karena itu sangat rugi jika Do'a kita tidak dikabulkan
oleh Allah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam. Siapapun pasti ingin do'anya
terkabul, karena itu salah satu sahabat Nabi bernama Sa’ad bin Abi Waqash
radliyallahu ‘anhu pernah minta do'a kepada Nabi agar doanya selalu dikabul
oleh Allah. Nabi menjawab: “Wahai Sa’ad, baguskanlah makananmu maka
niscaya dikabulkan do'amu. berikut ini hadist lengkapnya :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ شَيْبَةَ
،حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الاحْتِيَاطِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ
اللهِ الْجَوْزَجَانِيُّ رَفِيقُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ ، حَدَّثَنَا ابْنُ
جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : تُلِيَتْ هَذِهِ الآيَةُ
عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " يَأَيُّهَا
النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلالا طَيِّبًا سورة البقرة آية ١٦٨ فَقَامَ
سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، ادْعُ اللهَ أَنْ
يَجْعَلَنِي مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " يَا سَعْدُ أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ
الدَّعْوَةِ ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ
اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ
يَوْمًا ، وَأَيُّمَا عَبْدٍ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ وَالرِّبَا
فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
Artinya: “Menceritakan
kepadaku muhammad bin 'isa bin syaibah, menceritakan kepadaku hasan bin 'ali
ahtiyati, menceritakan kepadaku abu abdillah alzaujani temannya ibrohim bin
adham, menceritakan kepadaku ibnu juraih dari 'atoi dari Ibnu Abbas
radliyallahu ‘anhu berkata: [Suatu ketika] ayat ini dibaca di sisi baginda Nabi
SHOLALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM :
يَأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ
حَلالا طَيِّبًا سورة البقرة. آية ١٦٨
“Wahai manusia,
makanlah dari apa yang dihasilkan bumi dengan cara halal lagi baik”
Maka berdirilah Sa’ad
bin Abi Waqash radliyallahu ‘anhu lalu berkata: “Wahai Rasulullah,
berdoalah tuan kepada Allah agar menjadikan aku orang yang dikabulkan
doanya!” Kemudian Nabi menjawab: “Wahai Sa’ad, baguskanlah makananmu
niscaya dikabulkan doamu. Demi Dzat yang diri Muhammad ada ditangan-Nya,
sesungguhnya seorang laki-laki yang memasukkan satu suapan haram ke dalam
perutnya, tidak akan diterima doa darinya selama 40 hari. Daripada daging
seorang hamba tumbuh dari perkara haram (suht) dan riba, maka api adalah lebih
utama dengannya.” (Imam Ibnu Katsir, al-Yasiir fi Ikhtishari Tafsir Ibnu
Katsir, Jedah, Daru al-Huda li al-Nasyr, 1426 H, Juz 2, halaman 183)
BACA SELENGKAPNYA :

0 Komentar